Seribu Malam Harapan


SUASANA hidup bangsa saat ini seperti kondisi sosial-budaya Malam Qadar. Rakyat miskin makin menderita, yang berkuasa mabuk harta dan selingkuh.

Masyarakat tidak tahu lagi ke mana mencari keadilan. Si miskin bingung mencari sesuap nasi, si kaya sibuk memilih menu,yang merasa saleh sibuk menghitung pahala, menghujat yang berbeda. Kaum intelektual bingung memilih teori, penguasa sibuk menghindari tanggung jawab.

Tiap orang sibuk dengan diri sendiri mencari segala cara menghancurkan sesama. Fitnah dan permusuhan menu utama pergaulan. Perzinaan, judi, pembunuhan, perilaku korupsi, selingkuh, dan kebohongan mewarnai kehidupan sehari-hari.

Kehidupan seperti di hutan rimba. Manusia adalah serigala bagi orang lain, bahkan anaknya sendiri. Membela orang lemah dan miskin merupakan kehinaan. Kebaikan dilihat dari kekuatan fisik, kekuasaan, kekayaan bendawi.

Pemimpin partai dan keagamaan mabuk kuasa, aparat “ngakali” peradilan, rakyat bingung mencari sesuap makan. Si lemah tertindas, keadilan hanya bagi yang berpedang dan beruang. Anak perempuan lahir untuk dihina dan dibunuh karena tidak bisa berperang.

Kelemahan fisik atau lahir dari rahim jelata adalah cacat peradaban. Muhammad ber-tahannus (menyepi,menyendiri) di Gua Hira mencari pemutus rantai konflik, ketidakadilan, kemiskinan, dan kebiadaban. Segala pertanyaan diajukan,selalu menghadapi jalan buntu.Baginya, jalan kekuasaan dan kekayaan terbentang, tapi tidak mungkin meninggalkan warga dalam penderitaan, tertindas, dan saling bunuh.

Dalam kegelisahan mendalam,kesendirian memuncak,istrinya,Siti Khadijah, terus membesarkan hati. “Selalu tersisa harapan, tersedia jalan keluar,” bisiknya. Di suatu malam, sosok yang tak pernah dikenalnya tiba-tiba hadir di hadapannya, lalu membaca Iqra bismi rabbika al-ladzi khalaq. Khalaqal insaana min alaq. Iqra wa rabbuka al-akram. Al-ladzi allama bi-alqalam. ‘Allama al-isnaana maa lam yalam. (Baca dengan nama Tuhanmu yang mencipta).

Mencipta manusia dari segumpal darah. Baca atas nama Tuhanmu Yang Pemurah.Yang mengajar manusia dengan kalam. Memberi ilmu manusia yang tak diketahuinya). Itulah Jibril sedang membaca wahyu pertama, penanda kenabian Muhammad.Malam itu dikenal sebagai Lailatul Qadar, terjadi pada 17 Ramadan.

Di malam itu beribadah lebih hebat dari ibadah 1.000 bulan di waktu lain.Revolusi peradaban berpangkal kesadaran asal-muasal diri manusia dimulai.Perangai jahiliah berubah cinta kasih,konflik,dan fitnah menjadi silaturahmi, hukum menggantikan ketidakadilan dan kebiadaban, kekuatan fisik dan pedang diganti etika budi kemuliaan (akhlakul karimah).

Bisakah kita belajar dari Malam Qadar bagi pembebasan bangsa dari multikrisis? Seribu malam pengorbanan bagi kemanusiaan bisa menjadi solusi negeri ini.Siapa ikut?

Source : (okezone.com)
ABDUL MUNIR MULKHAN
Anggota Komnas HAM, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
(sindo//ahm)

About alkahfi

Bekerja di bidang IT-MIS di sebuah perusahaan Optik di Medan, sebagai Software Enginer.

Posted on September 20, 2008, in Hikmah, Islam, Life Style and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: